Rabu, 30 Mei 2012

JANGAN BUANG KARDUS + NOTA LAPTOP

kardus laptop

JANGAN BUANG KARDUS + NOTA LAPTOP ANDA. karena suatu saat anda mau jual ke toko jual beli laptop, kardus itu sebAgai bukti laptop anda bukan barang curian. hehehehe

Selasa, 01 Mei 2012

Semangat Anak Bangsa di HARDIKNAS 2012

Berangkat ke sekolah
Salah satu potret pendidikan yang ada di Indonesia, hanya untuk mencapai sebuah kesuksesan mereka rela berangkat menuju sekolah dengan melintasi sungai dan pedesaan. Berbeda dengan kita yang berada di kota. 

Mereka adalah anak-anak yang tangguh, ini adalah salah satu bukti ketangguhan anak bangsa. Kekuatanmu untuk meraih cita-cita yang engkau impikan. Bersemangatlah wahai anak negeri. Negeri ini menantimu, negeri ini memanggil namamu.

Bersekolah
Selamat berjuang putra bangsa, harumkan nama bangsamu, gapailah cita-citamu setinggi-tingginya, setinggi yang kau impikan, butlah bangga ayah dan ibumu. Selamat Hari Pendidikan Nasional ( Rabu, 2 Mei 2012 ). Salamku untukmu anak negeri di HARDIKNAS 2012.

Minggu, 08 April 2012

DIVING IN MY LIFE: Taruna Sekolah Tinggi Perikanan ( STP ) di Hitam P...

DIVING IN MY LIFE: Taruna Sekolah Tinggi Perikanan ( STP ) di Hitam P...: Hitam Putih Taruna STP Jakarta di Hitam Putih Trans 7         Kamis, 6 April 2012 kami taruna STP ( sekolah Tinggi Perikanan ) meny...

Kunjungan alumni AUP/STP dan Motivasi untuk kami Taruna TPI angkatan XLVI

 
Alumni AUP/STP
      Pada Rabu, 5 April 2012 kami kembali mendengarkan motivasi dari pengalaman-pengalaman para alumni AUP ( Akademi Usaha Perikanan ) atau STP ( Sekolah Tinggi Perikanan ) yang berkunjung ke kampus kami tercinta. Mereka yang datang kebetulan sedang melanjutkan pendidikan di BP3IP ( Balai Besar Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran ).

         Mulai dari kiri kak Frans Beny ( angkatan 31 ), yang berdiri kak Puji ( angkatan 31 ), kak Joko ( angkatan 33 ). Mereka bercerita panjang lebar mengenai pegalaman mereka setelah lulus dan di tempatkan di kapal, sehingga dapat melanjutkan pendidikannya di BP3IP.

Kak Frans Beny yang memiliki pengalaman di kapal Tanker, mulai dari yang berukuran kecil hingga yang super tanker.Sedangkan Kak Puji dan Kak Joko mereka memiliki pengalaman di kapal pesiar, mereka pernah di Holland Amerika Lines.

Frans Beny ( angkatan 31 )
Taruna TPI 46


Selasa, 07 Februari 2012

Hilangnya Amanat ( tanggung jawab dalam melaksanakan kewajiban dari Allah)


Ketika itu saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan CERTUM ( Ceramah Tujuh Menit ) di masjid kampus saya, dan ketika itu ba’da sholat ‘ashar.saya membuka KitabRangkuman Hadis Shahih Al Bukhari, dan saya menyampaikan hadits mengenai Hilangnya Amanat, yang berbunyi :

”2114. Diriwayatkan dari hudzaifah r.a. dia berkata : Rasulullah saw. Menyampaikan dua hal kepada kami, yang satu sudah saya saksikan /sudah terjadi, sedangkan yang satu lagibelum saya saksikan. Rasulullah saw. Menuturkan bahwa amanat ituakarnya berada di hati manusia, kemudian mereka memahami Al Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Rasulullah saw. Juga menuturkan kepada kami tentang hilangnya amanat, beliau bersabda,” Amanat akan di ambil dari hati seseorang ketika ia sedangtidur, sehingga hanya bekasnya yang tersisa bagai bekas sesuatu pada umumnya, kemudian dia tidur lagi, lalu bekas amanat tersebut akan dihilangkan pula.sehingga yang tersisa hanya bekasnya ( yang kedua) bagai luka pada kaki akibat terkena bara api, sehingga bernanah dan mambengkak seolah gemuk penuh dagingpadahal didalamnya tidak ada daging sedikitpun. Pada saat membuat perjanjian jual beli (bisnis), manusia akan sulit menemukanorang yang masih memiliki amanat, kemudian dikatakan di tengah bani fulan terdapat seseorang yang teguh memegang amanat, sehingga seoranng tersebut disanjung-sanjung,’sungguh dia amat pandai, amatbaik, dan amat teguh’. Padahal sebenarnya orang yang disanjung-sanjung itu di dalam hatinya tidak terdapat keimanan meskipun seberat biji sawi pun. Kata perawi : saya sudah tiba di suatu masa yang saya tidak mempedulikan lagi dengan siapapu saya membuat perjanjian. Jika dia seorang muslim, Islamnya akan mencegahnya menipu. Jika dia seorang nasrani, penguasa muslim akan mencegahnya menipu. Sekarang saya ini tidak membuat perjanjian mengenai apapun kecuali dengan sifulan dan si Fulan.” ( Hadits ini diriwayatkan oleh al Bukhari, no. Hadits 6497).

Dari situ saya menyadari bahwa apa yang dijelaskan dalam Hadist diatas memang benar-benar nyata dalam kehidupan kita. Saat ini sangat minim sekali bahkan nyaris tak ada orang yang dapat di pegang kepercayaannya atau dalam kata lain tidak bisa menjaga amanat. Mungkin karena satu dan lain hal yang membuat ia lupa ataukah sengaja untuk tidak melaksanakan amanat tersebut.

Contoh kecil, umur kita merupakan suatu hal yang ada batasannya dan sewaktu saat akan diminta pertanggung jawabannya. Banyak diantara kita yang masih menyepelekan waktu yang telah diberikan, pada saat waktu saholat tiba, kita mengulur-ulur waktu, dan akhirnya meninggalkan sholat tersebut. Ketika hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dalam diri kita, maka alangkah meruginya diri ini. Ternyata kita telah menyepelekan suatu amanat berupa waktu yang terbuang sia-sia. Padahal jika kita dapat memanfaatkannya sangat banyak manfaat yang kita dapatkan. Jika kita gunakan untuk membaca buku, maka kita akan mendapatkan banyak pengetahuan dan jika kita mempelajari sesuatu maka kita akan mendapatkan sebuah pelajaran yang beharga, dan minimal waktu kita tak terbuang sia-sia.
Mungkin itu contoh kecil dan masih banyak disekitar kita hal-hal yang merugikan jika kita tidak menjaga waktu yang mana waktu itu merupakan suatu amanat yang akan diminta pertanggung jawabannya kelak. Sekarang mari kita manfaatkan waktu seoptimal mungkin.


Senin, 05 Desember 2011

Tak terasa kita telah memasuki tahun baru 1433 Hijriah, tepatnya saat ini kita sudah berada di bulan Muharram. Adapun kata muharram berasal dari kata “harrama” yang mengalami perubahan bentuk menjadi “yuharrimu-tahriiman-muharraman-muharrimun“. Bentukan “muharraman” berarti yang diharamkan. Apa yang diharamkan ? Perang atau pertumpahan darah! Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat  At Taubah ayat 36 :          “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah sebagaimana disebut di Kitabullah ada 12 bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dan terdapat 4 bulan di dalamnya merupakan bulan yang diharamkan”.
Membicarakan bulan Muharram pasti tidak akan lepas dari peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Hijrah itu sekaligus menjadi tonggak awal dimulainya kalender Islam. Ini artinya hijrah Rasulullah SAW beserta para sahabatnya ke Madinah telah berumur 1433 tahun. Sebuah peristiwa bersejarah yang patut dikenang dan bisa menjadi proses transformasi spiritual. Di dalamnya terkandung makna dan keteladanan untuk sebuah pengorbanan sejati yang mengapresiasikan perlawanan akan kebathilan sekaligus sikap konsisten mengedepankan kepentingan misi dari kepentingan apa pun, agar ia tetap lestari dan terjaga dari kepunahan meski karenanya harus berdarah-darah mereka harus meninggalkan negeri, harta, sanak dan handai taulan tercinta.
Secara harfiah hijrah artinya berpindah. Secara istilah ia mengandung dua makna yaitu,hijrah makani dan hijrah maknawi . Hijrah makani artinya hijrah secara fisik berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik dari negeri kafir menuju negeri Islam. Adapun hijrah maknawi artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebathilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju keIslaman. Makna terakhir oleh Ibnu Qayyim bahkan dinyatakan sebagai al-hijrah al-haqiqiyyah. Alasannya hijrah fisik adalah refleksi dari hijrah maknawi itu sendiri. Dua makna hijrah tersebut sekaligus terangkum dalam hijrah Rasulullah SAW dan para sahabatnya ke Madinah. Secara makani jelas mereka berjalan dari Mekah ke Madinah menempuh padang pasir sejauh kurang lbh 450 km. Secara maknawi  jelas mereka hijrah demi terjaganya misi Islam.
Al-Qahthani menyatakan bahwa hijrah sebagai urusan yang besar. Hijrah berhubungan erat dengan al-wala’ wal-bara’ bal hiya min ahammi takaalifahaa, bahkan ia termasuk manifestasi yang paling penting. Penting karena menyangkut ketepatan sikap seorang muslim dalam memberikan perwalian kesetiaan dan pembelaan. Juga menyangkut ketepatan seorang muslim dalam menampakkan penolakan dan permusuhan kepada yang patut dimusuhi. Dalam sejarah para rasul juga dekat dengan tradisi hijrah dan semua atas semangat penegasan batas sebuah loyalitas kesetiaan keimanan yang berujung menuju kepada yang lebih baik atas ridha Allah SWT. Sebut misalnya Nabi Ibrahim Khalilullah beliau telah melakukan hijrah beberapa kali dari Babilon ke Palestina dari Palestina ke Mesir dari Mesir ke Palestina lagi, semua demi risalah suci.
Ibrah dari dari peristiwa hijrah adalah sebuah pengorbanan. Setelah para sahabat keluar dari ujian berupa siksaan dan cercaan dari Kafir Quraisy di Mekah tidak otomatis menjadikan mereka bebas dari ujian berikutnya. Yang paling gamblang adalah cobaan meninggalkan kemapanan. Tengoklah bagaimana sahabat meninggalkan keluarga tercinta rumah pekerjaan tanah air dan sanak kadang dan handai taulan.
Secara lahiriyah umumnya naluri manusia akan menyatakan ujian itu sungguh berat. Meninggalkan nilai material yang barangkali selama ini mereka rintis dan perjuangkan. Berpindah ke suatu tempat asing yang penuh spekulasi. Toh kecintaan para sahabat akan Islam mengalahkan kecintaan pada semua itu. Kesucian akidah di atas segalanya. Hal ini sekaligus menegaskan betapa maslahat “din” menempati pertimbangan tertinggi dari maslahat-maslahat yang lain. Pelajaran lain hijrah menegaskan adanya perseteruan abadi antara kebatilan versus kebenaran.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 147 yang artinya : “Kebenaran itu datang dari Rabb-mu maka jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu-ragu”. Untuk menangkap spirit hijrah lebih jauh rumusan sederhana Ibnu Qayyim cukup menarik katanya dalam kata hijrah terkandung arti berpindah “dari” dan berpindah “menuju”. Maksudnya berpindah dari yang semula tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya menuju kepada yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Jika rumusan global tersebut betul-betul dihayati tiap muslim untnk selanjutnya secara konsisten diterapkan dalam sendi-sendi kehidupan barangkali nasib umat ini secara umum akan lebih baik dari sekarang, karena dalam dirinya terdapat potensi raksasa/kekuatan yang luar biasa, yang apabila digali dan di manaje dengan sungguh-sungguh akan mengantarkan kepada kehidupan kita yang jauh lebih baik, lurus, dan cerah. Ketidak sadaran akan potensi dirinya akan berdampak kepada pengkerdilan potensi itu sendiri. Sehingga manusia (kita) sering tidak berdaya dalam menghadap persoalan hidup.
Bentuk ketidaksadaran akan potensi diri ini bisa bersifat individu atau kolektif. Dalam tataran individu hal itu akan membuat individu yang bersangkutan mengalami kelumpuhan berfikir, kelumpuhan nurani dan kelumpuhan beraksi yang akhirnya bisa menimbulkan sifat“malas”. Selanjutnya akan dapat menimbulkan pola pikir yang “seandainya, jikalau , umpama” (seandanya saya jadi orang kaya, jikalau saya seorang pejabat dll). Sedangkan dalam skala kolektif akan menimbulkan kelumpuhan satu bangsa, satu generasi atau satu ummat, sehingga akan melahirkan generasi yang mandul, ummat yang rapuh dan bangsa yang stagnan. Padahal Allah sudah memberikan peringatan dalam Al-Qur’an (QS. Ali Imran:139) :
“Dan janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi jika kamu orang-orang yang beriman”.
Dalam menafsirkan ayat di atas Sayyid Quthb berkata : Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati atas apa yang menimpamu; dan jangan pula kamu bersedih hati atas apa yang lepas dari tanganmu, padahal kamu adalah orang-orang yang tinggi. Akidah kalian lebih tinggi karena kalian bersujud pada Allah semata sedangkan mereka menyembah pada salah satu makhlukNya atau sebagian dari makhluknya. Manhaj hidup kalian lebih tinggi sebab kalian berjalan di atas manhaj Allah sedangkan mereka berjalan di atas manhaj ciptaan makhlukNya. Peran kalian lebih tinggi sebab kalian mendapat tugas untuk memberi petunjuk kepada manusia secara keseluruhan yang sedang berjalan tanpa manhaj atau menyimpang dari manhaj yang lurus. Posisi kalian di muka bumi lebih tinggi sebab kalian adalah pewaris bumi yang Allah janjikan pada kalian, sedangkan mereka menuju pada kebinasaan dan dilupakan. Maka jika kalian benar-benar beriman pasti kalian akan lebih tinggi, dan janganlah kalian bersikap lemah serta bermuramdurja (Tafsir Fi Zhilal al Quran,I/480).
Sementara itu menurut Imam Asy Syaukani teks ayat di atas dari segi makna saling berkaitan. Artinya jika kamu beriman maka janganlah kamu bersedih, atau jika kamu beriman maka kamulah orang yang paling tinggi (Fath al Qadir,I/384).
Hal serupa bisa kita dapatkan dalam teks ayat yang lain, yaitu QS. Ali Imran : 146 :
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah SWT, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.
Begitu pula dengan FirmanNya QS.Muhammad : 35 :
“Maka janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu”.
Sering kita tidak menyadari bahwa kita memiliki potensi untuk mengatur menjadi “imam”umat lain, menjadi imam peradaban dan budaya. Sesungguhnya Allah membuka kesempatan bagi kita untuk menjadi ummat terbaik di mata dunia. Kita sering lupa bahwa Allah memberi kita potensi untuk menjadi umat pilihan, ummat penengah yang mampu memberikan rahmat dan kesejukan pada sesama, mampu menebarkan keadilan, melindungi hak-hak manusia dan menghargai martabat mereka. Sebagaimana Firman Nya dalam QS.Ali Imran:110 :“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah SWT”.
Juga dalam QS.Al Baqarah:143 : “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi (perbuatan) manusia”.
Dari ayat-ayat di atas dapat kita pahami sesungguhnya Allah SWT telah mendesain kita (umat Islam) sebagai umat pilihan, umat yang dapat mendatangkan kesejukan, memberikan rasa nyaman, memberikan keadilan dan menghargai martabat manusia. Namun terkadang akibat keserakahan, ketamakan, iri dengki, hasud dsb kita jauh keluar jalur dari desain Allah. Sehingga akibatnya tidak hanya merugikan si pelaku tapi juga mengakibatkan kerugian kepada yang lain. Juga karena perbuatan manusia yang di luar desain Allah mengakibatkan Agama Islam yang begitu tinggi dan mulia menjadi ternoda, efeknya akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak senang dengan Islam (musuh Islam) dengan menciptakan opini publik, pelabelan-pelabelan bahwa Islam itu radikal, militan, identik dengan teroris dsb. Padahal sesungguhnya  Islam itu adalah agama pembawa kedamaian bahkan sebagai rahmatan lil’alamiin.
Kesimpulan : Orang-orang beriman bisa melejitkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya secara maksimal dalam bingkai keimanan dan ketaqwaan jika mampu menyuruh manusia untuk berbuat baik, menebarkan kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang mungkar yang merugikan manusia lainnya. Kita akan dianggap kelompok orang yang beriman jika dalam setiap gerak kita aksi kita selalu bertaburan kebaikan dan sepi dari kemungkaran. Kesadaran untuk menjadi mukmin secara hakiki akan mengantarkan kita kepada pola pikir dan aksi yang positif, mendorong kita untuk melakukan kerja besar dan menghindarkan kita dari perbuatan/pekerjaan yang sia-sia. Kesadaran bahwa kita mendapat asuransi bersyarat dari Allah sebagai umat terbaik, umat pilihan, dan saksi bagi segenap manusia akan memacu, mendorong serta menggerakkan kita untuk melakukan agenda strategis untuk mengangkat derajat umat Islam yang sedang dirugikan oleh cara berpikir dan berperilaku yang keliru.
Oleh karena itu kita harus mulai dari diri kita (ibda’ binafsik) selanjutnya kesadaran individu harus bermetamorfosis menjadi kasadaran kolektif, menjadi kesadaran umat, sehingga kita mampu menempatkan diri pada tempat yang seharusnya. Kita harus menjadi umat yang mulia dan bukan menjadi hina. Kita harus menjadi umat yang memimpin dan bukan yang dipimpin. Kita harus menjadi Khairul Ummah (ummat yang terbaik) dalam bingkai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Umat Islam Indonesia harus memahami makna hijrah secara makro. Hijrah bukan hanya pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya. Tapi makna hijrah secara luas adalah perubahan, termasuk perubahan pola pikir dalam menempuh perjalanan hidup di dunia ini. WAllahu a’lam. Bishowab.